Dapatkan promo member baru Pengeluaran SDY 2020 – 2021.

Lelaki yang mendekap buku corak sampul keras Don Quixote tersebut terbangun di sel nomor 48. Nomor itu punya arti khusus: ia berada di tingkat ke-48 dari atas, di sebuah kurungan berbentuk vertikal, menghunjam ke kolong laksana sumur.

NOMOR yang tak terlalu buruk, sesegera ia tahu bagaimana tempat itu bekerja. Setiap kali zaman makan tiba, sejenis peron beton turun perlahan dari satu sel ke sel lain di bawahnya. Peron itu membawa makanan, tangsi di sel paling atas mampu makan sepuasnya, sementara yang kolong memperoleh sisa-sisa.

Yang sangat bawah? Kemungkinan besar hanya memperoleh piring-piring kotor. Nasib mereka bisa berubah di akhir bulan, di mana sel mereka diacak kembali. Mereka bisa memperoleh nasib lebih baik atau lebih membatalkan. Jika satu bulan tak menerima makanan, kamu bisa makan jodoh satu selmu sendiri.

’’Lebih baik memakan daripada dimakan, ’’ kata salah satu penghuni tempat itu. Ini memang cuma ada di sebuah film Spanyol berjudul The Platform, besutan sutradara Galder Gaztelu-Urrutia. Sebuah film yang bisa dikategorikan sebagai film sains-fiksi, horor, kritik sosial, atau ikatan dari itu semua.

Yang mengerikan bagi saya bukanlah semata-mata adegannya yang memang brutal, banjir darah, tapi justru dalam kesadaran bahwa apa yang berlaku di film itu terjadi dengan nyata di dunia ini. Makan atau dimakan bukanlah ujaran khayali, tapi terjadi di depan lengah semua orang.

Film ini, di luar urusan genrenya yang mungkin tak akan membuat nyaman sebagian orang, memberikan penuh perenungan, dan terutama pertanyaan. Bagi saya ini tanda film dengan baik.

Hidup dasar seharusnya penuh pertanyaan. Hanya orang mati yang tidak bertanya. Orang hidup yang puas dengan reaksi dan tak mengajukan pertanyaan bagi saya sama saja mati pra napasnya direnggut.

Kalau makanan itu pada dasarnya dipersiapkan dengan jumlah yang mencukupi buat semua penghuni, kenapa mereka tak bisa mengatur diri agar seluruh bisa makan?

Kok yang paling atas makan sejenis banyak, bahkan menghambur-hamburkannya, sehingga makanan habis hanya beberapa tingkat ke bawah, dan membiarkan sisanya lebur atau menjadi kanibal?

Di kehidupan nyata, kita melihatnya sebagai hierarki sosial. Dalam bentuk tertentu, nasib manusia bisa bertukar. Yang pernah di atas mungkin ke bawah, begitu juga sebaliknya, seperti metafora roda pedati dengan sering dikatakan orang-orang bijak.

Meskipun begitu, satu peristiwa sama. Mereka yang di untuk memiliki kesempatan makan lebih banyak. Tak hanya makan dalam pengertian harfiah, tentu saja.

Mereka bisa memiliki tanah lebih luas, bukit-bukit berisi batu & mineral berharga, pengetahuan dan keterangan, menciptakan akumulasi kekayaan yang melimpah ruah. Mereka tak peduli apakah bisa memakan semua itu ataupun tidak.

Di kolong? Ada yang mengumpulkan sampah untuk bertahan hidup. Ada yang meminta-minta. Ada yang tak makan berhari-hari. Orang melakukan banyak hal untuk sekadar bertahan hidup.

Yang tak bisa bertahan hidup menjadi yang tersingkir. Dengan kata lain: yang menuju kematian. Kalau bukan karena menjatuhkan diri, bisa jadi siap mati dimangsa sesama manusia.

Di dunia nyata saya rasa keadaan jauh lebih bengis. Para elite pada sel tertinggi, mereka yang berkuasa, memiliki kesempatan lebih besar untuk terus berada di atas.

Di negara monarki, kewibawaan diturunkan berdasar darah keturunan. Dalam negara demokrasi? Selalu ada jalan anak para penguasa menjadi penguasa kecil di berbagai kota. Pemilu daerah yang baru saja dijalankan dengan gamblang memperlihatkannya.

Di sel-sel masyarakat paling kolong, mereka berharap bisa naik ke tingkat yang lebih tinggi. Kala dengan usaha dan kemujuran, itu menemukan diri berada beberapa level di atas. Lebih sering terjadi, keadaan memaksa mereka saling menapak, seperti kerumunan kepiting yang hendak keluar dari baskom.

Seperti perkataan Gandhi, sumber daya alam di bumi ini benar mencukupi untuk setiap manusia bisa makan. Tapi, kenapa ada dengan kelaparan?

Kenapa kita tidak bersama-sama memberantas kerakusan? Kok kekayaan dunia tak didistribusikan selalu secara merata sehingga semua karakter bisa bertahan di sel masing-masing, tak peduli ia berada dalam tingkat berapa?

Makin, seandainya kerakusan tak bisa dihapuskan, katakanlah karena manusia memiliki hasrat untuk mengumpulkan melebihi kebutuhannya, jadi cara berjaga-jaga di masa sulit, tak bisakah kerakusan dibatasi? Sebesar apa? Adakah cara untuk menyembunyikan mereka yang berada di sel paling bawah?

Pertanyaan-pertanyaan itu saya yakin ada dalam benak banyak orang, tapi kedudukan sosial menciptakan mereka yang dalam tingkat paling bawah saling berdampak dan berseteru satu sama asing. Tentu saja satu–dua akhirnya mengajukan pertanyaan.

Sialnya, tidak semua senang dengan pertanyaan-pertanyaan sama dengan itu. Entah takut atau mau mengamankan posisi, termasuk sekadar gaya yang lebih baik dari sesama. Memilih mengabaikannya, menjadikan dunia tentu seperti sediakala, bagai wujud nyata penjara The Platform. (*)

EKA KURNIAWAN

Penulis dan novelis, nomine The Man Booker International Prize 2016

Saksikan video menarik berikut ini: