JawaPos. com – Menteri Perdagangan Agus Suparmanto mengungkapkan, Indonesia berpeluang menjadi pusat produsen halal dunia. Namun, untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan kerja sama erat antara pemerintah, swasta, BUMN, organisasi kemasyarakatan, dan publik secara umum.

“Diharapkan para pemangku kepentingan bisa duduk bersama, bersinergi, serta memeriksa yang solusi terbaik dengan mengidentifikasi berbagai tantangan dan peluang, yang perlu dijadikan pertimbangan dalam menyusun strategi peningkatan ekspor produk legal Indonesia, ” ujarnya dalam keterangannya, Senin (2/10).

Agus menjelaskan, industri halal memiliki karakter yang cukup signifikan atas prestasi positif neraca perdagangan. Pada masa Januar hingga Agustus 2020, kemampuan neraca perdagangan Indonesia dengan negara- negara Organisasi Kerja Sama Agama islam (OKI) menunjukan performa positif dengan mencatatkan surplus sebesar USD dua, 46 miliar.

Pada periode tersebut, Indonesia mampu mencetak ekspor ke negara anggota OKI sebesar USD 12, 43 miliar. Dari nilai ekspor tersebut, 3 produk yang tertinggi adalah minyak kelapa sawit (23, 88 persen), batu bara (9, 56 persen), dan bagian kendaraan bermotor (3, 95 persen).

Secara ukuran pasar, kata dia, negara2 OKI merupakan pasar yang luar biasa besar. Terdiri atas 57 negara anggota, dengan total populasi muslim sebesar 1, 86 miliar nyawa atau sekitar 24, 1 tip dari total populasi dunia. Jumlah populasi ini belum termasuk pengikut agama Islam di luar negara anggota OKI, seperti India dengan jumlah muslim sebesar 195 juta jiwa dan Ethiopia dengan jumlah muslim sebesar 35, 6 juta jiwa.

Baca selalu: Airlangga Sebut RI Pasar Buatan Halal Terbesar, tapi Dibanjiri Impor

“Sebagian besar negeri anggota OKI dengan mayoritas penduduknya beragama Islam memiliki tuntutan penopang pemenuhan atas jaminan produk halal yang cukup tinggi. Hal ini menjadikan negara-negara OKI sebagai pasar dengan peluang yang besar, ” ucapnya.

Agus meneruskan, ekspor produk Indonesia ke negara berpenduduk mayoritas muslim tidak sanggup dilepaskan dari peran produsen produk halal Indonesia, khususnya untuk buatan makanan, kosmetik, dan obat-obatan. Ke-3 produk ini berkontribusi sebesar mutlak senilai sebesar 7, 42 komisi terhadap impor produk halal negeri.

“Tren impor produk halal negara OKI periode 2015 – 2019 cenderung meningkat 5, 27 persen. Namun demikian, pangsa pasar ekspor produk halal Indonesia ke negara OKI masih kudu dapat dimaksimalkan, ” tuturnya.

Agus menyebut, Kementerian Perdagangan memiliki beberapa strategi peningkatan ekspor produk halal. Strategi ini menyatukan berbagai instrumen yang tersedia. Prima, dengan memanfaatkan instrumen kebijakan, seperti kebijakan relaksasi ekspor-impor untuk buatan halal tujuan ekspor. Kedua, dengan menguatkan akses pasar produk legal Indonesia di pasar luar daerah. Ketiga, dengan menyiapkan berbagai program untuk penguatan pelaku usaha ekspor produk halal.

“Salah satu langkah konkretnya adalah secara turut serta dalam fasilitasi penyelenggaraan sertifikasi halal bagi usaha mikro dan kecil. Sertifikasi halal itu bermanfaat untuk meningkatkan daya bertentangan dan memberikan rasa aman untuk konsumen, ” kata Agus.

Kementerian Perdagangan juga menyampaikan bimbingan teknis legalitas usaha sejak Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan serta Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI). Selain itu, Kementerian Perniagaan menyediakan fasilitasi sertifikasi halal pada usaha mikro, kecil, dan membuang (UMKM).

“Langkah faktual lain dalam meningkatkan ekspor keluaran halal adalah melalui peningkatan kanal pasar ke mancanegara. Diharapkan buatan Indonesia dapat masuk secara longgar ke pasar ekspor suatu negara tanpa terkendala hambatan tarif maupun hambatan nontarif, ” ungkap Mendag.

Untuk peningkatan kanal pasar luar negeri, Agus menambahkan, pihaknya melakukan berbagai perundingan perdagangan. Di antara perudingan tersebut membabitkan negara-negara muslim anggota OKI maupun non-OKI yang merupakan pasar potensial produk halal Indonesia.

“Sebagai contoh, negara anggota OKI yang telah memiliki perjanjian perdagangan dengan Indonesia yaitu Pakistan, Mozambik, Palestina, serta Malaysia dan Brunei Darussalam dalam kerangka ASEAN, ” tutupnya.

Saksikan gambar menarik berikut ini: