Promo menarik pada undian Data SGP 2020 – 2021.

JawaPos. com – Perilaku kurang gerak sudah ada jauh pra pandemi virus Korona melanda negeri. Jumlahnya diperkirakan semakin meningkat sebab situasi karantina wilayah di bermacam-macam negara, termasuk Indonesia.

“Kalau dilakukan dalam waktu dengan lama, waktu yang panjang, mampu menjadi gaya hidup, ” kata dokter spesialis kedokteran olahraga Sophia Hage dalam acara bincang-bincang virtual bersama Xiaomi, Senin (21/12), dikutip dari Antara .

Perilaku kurang gerak atau sedentary merupakan segala kegiatan pada luar waktu tidur, yang cuma memerlukan sedikit energi, misalnya duduk dan menonton televisi. Aktivitas dengan tergolong sedentary bahkan menghabiskan energi lebih sedikit dibandingkan aktivitas ringan, seperti berdiri dan jalan kaki.

Perilaku kurang gerak itu akan menjadi kebiasaan, atau perangai hidup, setelah dilakukan selama enam jam atau lebih dalam periode yang lama. Sedentary lifestyle   juga mampu terjadi pada siapa saja, termasuk orang-orang yang rutin berolahraga pada setiap hari, jika kegiatannya banyak dihabiskan duduk di depan komputer, misalnya.

Sophia mengutip masukan dari survei IFLS dan buku harian ilmiah The Lancet Global Health, populasi di Indonesia yang termasuk kurang aktivitas fisik pada 2007 berjumlah 19, 9 persen, terangkat menjadi 30 persen pada 2016.

Dia juga mengutip Riset Kesehatan Dasar, bahwa di dalam 2018 terdapat 33, 5 tip populasi yang kurang aktivitas fisik pada 2018.

Tatkala populasi global, terdapat 27, 5 persen yang kekurangan aktivitas wujud pada 2018. Dari populasi itu, perempuan lebih banyak kurang garit (28, 6 persen) dibandingkan laki-laki (23, 4 persen).

Kekurangan aktivitas fisik tentu hendak berdampak pada kesehatan individu, masa pendek, misalnya mengalami nyeri tumpuan bagian bawah dan radang otot. Dalam jangka panjang, kurang denyut bisa menyebabkan ostheoporosis dan ostheoarthritis.

Sophia mencontohkan masa terlalu sering duduk atau menelentang fungsi otot-otot besar (paha & punggung), yang semestinya digunakan untuk menyangga tubuh, tergantikan oleh kedudukan.

Akibatnya, ada kemerosotan penyerapan gula dan lemak dalam sel tubuh. Ketika dua maujud tersebut tidak digunakan tubuh buat bergerak, maka kadar gula pembawaan dan kolesterol akan tinggi dan bisa menimbulkan masalah kesehatan lainnya jika gaya hidup ini diteruskan.

Gaya hidup invalid gerak ini juga bisa meningkatkan risiko obesitas, hipertensi dan penyakit kardiovaskular. Perilaku kurang gerak itu tidak hanya berakibat pada kesehatan tubuh fisik, namun, juga bisa menyerbu kesehatan mental. Pelaku sedentary lilfestyle berisiko tiga kali lipat mengalami gejala depresi dibandingkan mereka yang penuh bergerak.

Mereka yang kurang gerak ini juga mampu mengalami masalah finansial karena kudu mengeluarkan lebih banyak uang untuk mengakses layanan kesehatan dan daya kerja terganggu jika sering sakit.